#danbercerita

Showing posts with label #danbercerita. Show all posts
Showing posts with label #danbercerita. Show all posts

Di(h)ngin


Satu pagi bau tahi kambing dan sapi menusuk lubang hidung, saya genggam tangan Ibu setelah kami selesai menjalankan sholat. Tetapi ia menolaknya, justru tangannya lebih memilih untuk merapikan baju. Saya sempat berpikir beberapa detik, ini beneran ditolak atau hanya memang situasinya tidak memungkinkan. Setelah ia percaya diri dengan penampilannya, bergegas lah kaki ia langkahkan namun tangan saya tetap tidak ia pegang. Berarti benar, tadi bukan sekadar perasaan!

Tidak membutuhkan waktu yang lama, saya langsung bertanya mengapa tadi menolak untuk dipegang. Jawaban Ibu saya terbata-bata, cenderung gak jelas, ia cenderung melempar topik lain. Dengan agak kecewa saya bilang, “Bu, jangan dingin dong.”

Kemudian kami pun bergandeng tangan dan larut dalam pembicaraan tetapi saya terjebak di dalam pikiran sendiri.

DINGIN .....

Apa saya juga seperti itu, ya? Dingin ...

Karena saklar defensif itu gak berguna, saya akui.. sisi dingin itu ternyata mendarah daging di diri saya. Sering kali saya atau mungkin kamu tidak ingin disamakan dengan sifat-sifat tertentu yang dimiliki orang tua, namun semakin menolak kok rasanya makin kentara. Untuk beberapa momen, sikap dingin merupakan sebuah pertahanan diri atau justru berperan sebagai bumerang. Gak jarang, saya sulit mengekspresikan tanggapan saya mengenai sesuatu hal.

Sebab diperlakukan dingin itu gak enak. Pokoknya saya berjanji sama diri sendiri, saya gak mau bersikap dingin. Saya pasti bisa mengurangi kadar dingin di diri saya...

Saya gak mau dingin tapi dimana perapian ya? Jiwa-jiwa yang hangat? Di dalam diri sendiri? Mengapa masih pakai kata tetapi? 

; dan 

Tumbuh dan Mekar





Diberi berbagai kesempatan dan pengalaman tak terduga itu amat menyenangkan! Beberapa hari lalu saya dapat kesempatan workshop menulis, sebernya sih ‘Songwriting Workshop’ namun kapan lagi bisa mengambil kesempatan langka, gratis, dan terbatas ini. Memang workshop ini tak berkaitan erat dengan bidang penulisan puisi yang saya tekuni tapi rasanya saya harus dapat inspirasi baru. Karena mendapat inspirasi kan gak harus melulu dari membaca buku atau buku puisi, saya harus banyak belajar dari lintas seni maupun kaca mata berbeda. Bonusnya ya kamu bisa ngobrol seru sama Rara Sekar, Sandra, dan Danilla. Eh, Mba Danilla buru-buru pulang karena jadwal doi yang padat jadi aja ... gak bisa foto bareng kembaran (?).

Bonus tambahannya lagi sih, ini yang penting! Saya dapat teman-teman baru, ya emang dasar introvert sosial, ya. Meski pun kikuk di lingkungan baru tapi rasanya dapat teman baru itu, waw! Anehnya, ini orang-orang kok seperti teman lama yang baru ketemu lagi. Kita bisa ngobrol banyak hal, mulai dari pekerjaan sampai keinginan untuk bercengkrama kembali. Semoga kalian selalu diberi kekuatan dan kebahagiaan sama Tuhan.

tebak aku yang mana? hehehe

Daramuda 

Teman baru rasa teman lama, yang satu ibu rumah tangga (Cima) dan satu lagi anak ahensi yang lagi megang content writer hampir 30 brand (Senja). 

Singkat cerita di acara daramuda x samsungid, saya baru bisa tidur jam 02.00 WIB. Hmm! Jadwal tidur cepat saya di bawah jam 22.00 WIB kacau lagi deh. Secara fisik sih badan ini udah remuk dan ingin bergegas istirahat, tapi emang ajaib ketika otak masih bisa jalan ya ... boro-boro bisa tidur, yang ada nulis sampai menjelang pagi. Ok, berarti saya hanya punya waktu kurang dari 5 jam istirahat untuk ber-volunteer di salah satu kegiatan ruang terbuka menyambut Hari Kemerdekaan RI dari Pustakalana.

Emang dasar bahagia tuh bisa datang dari hal-hal kecil, sedari pagi ikut upacara hari kemerdekaan aja bikin senang seharian. Ya gimana gak, kapan terakhir saya upacara aja udah gak ingat rasanya! Kebetulan untuk acara kemerdekaan ini saya diminta jadi pendamping anak-anak. Gemas sekali ‘kan mereka?
Baru merasakan lagi upacara Hari Kemerdekaan RI


Serius amat nih dedek-dedek

Cie, musikalisasi puisi (foto milik Pustakalana)

Pustakalana Booksclub yang ke dua kalinya (foto milik Pustakalana)

Berakhirlah tugasku sebagai volunteer untuk Pustakalana di Hari Kemerdekaan RI (foto milik Pustakalana)


Belum selesai nih ceritanya..

Saya jadi volunteer itu kira-kira sampai pukul 17.30 WIB – an nih ya, udah gitu ada rapat sama geng Matahari buat ngomongin konsep mengajar selanjutnya di panti asuhan. Hehehehe “Kaga cape, tet?”
Actually yes but this my responsibilty to my own choice. Ok, terdengar rada berlebihan tapi saya masih kuat nampung semua di pundak. Meski saya mengiyakan ini mulut gatel ngomong ‘lelah/cape/bla bla bla’ .. beneran deh, kata itu udah lama hilang di hidup saya. Freelance desain, konsep, tulisan, saya ambil! (ada juga sih yang disampingkan kemudian merasa bersalah sama diri sendiri). Kegiatan di luar mendapat uang, seperti dua contoh di atas pun saya nikmati kesah dan senangnya. Projek menulis atau kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan diri pun saya ikhlaskan lelah-lelah itu.

Saya yakin masih banyak orang yang dua kali lipat lebih produktif daripada saya atau bahkan ada pula sebaliknya. Jadi saya rasa emang udah gak boleh tuh ada ‘lelah dan bla bla’ yang harus terucap (kurang-kurangin ya, tet) lagi pula udah semacam kebal cenderung baal. Mari sering-sering keluar dari zona aman untuk bisa tumbuh dan mekar! :)


; dan



Media Spasi Sosial


Berhenti mempertanyakan hal di luar diri kita itu, sulit-sulit mudah. Saya akui akhir-akhir ini ada kesengajaan yang memaksa diri untuk tidak terlalu mengekspos kehidupan di media sosial. Ya, cenderung mengurangi meski saya akui sifat narsis sering kali muncul begitu endorfin menguasai diri. Paling lama durasi bermedia sosial saya itu mentok di upload story, scroll ala kadarnya, lalu memilih buru-buru keluar secepatnya. Kenapa bisa? Ada beberapa pertimbangan yang cukup kuat, begini:

Pertama, entah mulai dari kapan saya tidak begitu selera melihat media sosial pribadi karena hampir setengah waktu dari 24 jam yang saya punya itu di kehidupan media sosial. Hidup saya kan gak hanya di situ doang ya, saya pun butuh ruang tanpa media sosial. Kedua, saya ingin lebih menikmati momen kebersamaan saya dengan orang sekitar. Memang gak bisa dipungkiri, gawai super canggih mampu mempermudah penyimpanan momen tapi kok rasanya fungsi otak saya jadi makin melemah ya dalam hal ingat mengingat. Saya harus belajar bahwa meski setiap lini masa punya karakter pengguna yang berbeda namun menerima orang di dunia nyata dengan segala negatif positif nya jauh lebih menyenangkan. Saya jadi bisa menikmati momen ketidaksetujuan dan keberpihakan secara langsung.

Ketiga, saya gak menemukan kebahagiaan hakiki ketika dihadapkan dengan media sosial yang saya miliki. Setiap apa yang saya tampilkan, pastilah punya porsi membentuk sudut pandang yang gak bisa saya kendalikan keliarannya. Maksud begini eh ditanggapinya begitu, ups! Ketika saya tampilkan sesuatu pasti ada segelintir orang yang merasa terdistraksi. Sehingga konyol sih rasanya jika apa pun yang saya tampilkan di media sosial akan diterima begitu saja. Saya rasa pengakuan terbesar itu adalah lingkungan sekitar bukan di alter ego.

Terus maksud dari kebahagiaan hakiki tuh gimana sih? Begini, kebahagiaan hakiki bagi saya sendiri adalah dimana saya bisa damai untuk melakukan satu obrolan dari hati ke hati. Semua orang berharga, semua percakapan itu bermakna, semua penting untuk mendapat perhatian yang sama, tetapi semua ada porsinya di media sosial. Rasanya saya lebih suka mengobrol langsung, saya jadi sok tahu bagaimana mereka bergembira, melihat mata mereka, dan mendengar lebih dekat. Saya rasa personal itu lebih membahagiakan. Saya jadi tidak perlu menghakimi siapa pun hanya dari tampilan alter ego yang orang tunjukkan. Nah, menganggap media sosial sebagai tempat menemukan kebahagiaan aja adalah sebuah kebodohan tet! Bisa aja sih saya memilih untuk santai dan tidak menjelaskan sepanjang yang saya bisa tetapi berarti saya gak peduli dengan kegelisahan saya sendiri.

Selanjutnya saya merasa media sosial itu mengurangi kadar romantisme seseorang. Tolong ya, jangan ada sekat pikiran di antara kita. Romantis itu gak hanya berlaku buat kekasih, orang tua, teman, romantis itu bisa dilakukan ke semua orang. Bagaimana cara kita memperlakukan teman, menghargai pendapat pasangan, bahkan berkata kasar kepada sahabat pun merupakan sebuah momen romantis. Kapan lagi kalo bukan saat bersama, saat itu, saat ini. 


Kelima, saya jadi kurang mencintai diri saya sendiri. Lah, kok bisa? Yaiya bisa! Waktu dimana saya bisa baca buku atau ngelakuin bisnis, eh! malah saya habiskan dengan menjelajahi lini masa. Lihat ini dan itu. Eh, tahu-tahu gak kerasa udah 3 jam nongkrong di depan media sosial. Kan asem!

Alasan terakhir ialah karena saya sedang menghindar dari seseorang atau bahkan beberapa orang. Menghindar itu bukan jalan keluar. Saya sangat setuju. Saya hanya gak ingin berbohong sama diri sendiri, kalo ternyata saya pun butuh spasi. Gak enak lho melarikan diri, jangan ditiru! Tetapi jika dengan melarikkan diri saya bisa menerima kenyataan bahwa saya tidak perlu banyak bersusah payah menjelaskan apa yang terjadi dengan diri saya atau apa yang saya harapkan, hmm.. saya rasa saya sudah menghargai diri saya.

Beberapa teman berpendapat, saya ini terlalu baik, punya toleransi tinggi, dan hal-hal menarik yang teman-teman lain ungkapkan. Namun saya rasa malu mengakui semua itu ketika dihadapkan pada kondisi dimana saya memang bukan orang baik. Banyak sekali cacat yang saya miliki dan rasanya memang harus cepat memperbaiki diri. Terkadang rasa sakit hati tetiba timbul, gak damai, sampai beberapa kali bangun dalam keadaan gelisah. Beberapa hari kemarin, saya bercermin.. yang terjadi adalah GILAK! Batin saya rasanya super lelah untuk tidak sayang sama diri sendiri, untuk menetapkan harapan saya kepada beberapa orang, untuk  berhasil mengalahkan ego sendiri agar mencoba damai namun kemudian saya merasa ditendang. Saat itu saya hanya butuh pelukan dari siapa pun yang menganggap saya sebagai manusia. Lalu manusia yang memeluk tubuh saya mengatakan bahwa, “Kamu akan baik-baik saja. Gpp, kamu memang perlu spasi. Asal jangan lama-lama. Mengurangi kadar cinta dalam diri itu kurang asik.”

Lalu? Saya hanya mampu memeluk diri sendiri lagi. Mendewasakan diri lagi. Lagi dan memang akan selalu ada kata lagi.

Sedihnya, rasa tidak nyaman itu tumbuh jadi sakit hati, saya seperti kehilangan diri sendiri untuk beberapa saat. Saya butuh spasi dengan sebuah pertanyaan, benarkah saya sudah cukup mencintai diri sendiri? Meski ada sakit di hati, saya gak mau kehilangan saya yang damai, diri saya yang punya kasih sayang, diri saya yang bisa diajak negosiasi dan toleransi. Diri saya yang teman-teman rasakan. Yang paling saya takutkan ialah saya lupa tidak menghargai diri saya sendiri. Maka dari itu, perlu saya pertegas lagi, saya butuh spasi. Saya gak bisa memastikan sampai kapannya. Apakah banyak yang akan terluka saat saya mempertegas situasi ini? Pasti! Tetapi ingatlah pada poin-poin sebelumnya kalo saya hanya lebih bersyukur untuk komunikasi secara langsung.

Sepertinya poin terakhir adalah alasan dengan penjelasan terpanjang, ya. Silakan salah paham, bagaimana pun saya akan selalu jadi diri saya sesuai dengan kaca mata penilaian kamu. Mau ngomong sampai berbusa kalo kamu hanya punya satu kaca mata, ya.. apa daya. Ish! Saya rasa apa yang ada di luar diri saya tidak patut diperdebatkan di tulisan ini.

Saya harap dengan mengurangi kadar bermain media sosial, saya mampu berhenti mempertanyakan hal-hal yang ada di luar kendali saya. Lebih menerima apa yang tidak bisa dipaksakan. Kemudian saya mampu memantaskan lagi, diri saya untuk memasuki fase-fase kehidupan lainnya. Saya ingin melihat apa yang akan saya dapatkan dari semua ini. Jujur saya penasaran hal-hal menarik apa yang akan terjadi jika saya konsisten dengan mengurangi intensitas bermedia sosial.

Begitulah kawan-kawan, perdebatan saya dengan diri sendiri soal dunia media sosial yang mungkin sedang kalian rasakan juga. Sebenarnya banyak kok manfaat yang dibawa media sosial, percayalah. Kamu hanya perlu membuat akun palsu dan mengikuti akun inspirasimu untuk meningkatkan produktifitas (eh). Doakan saya ya semoga selalu baik-baik saja. Doaku pun menyertai kalian. ­­­

; dan 


Awas! Tidak Semanis Gula



Sebelum ini, aku pernah sehangat napas, selepas sinar timbul di dedaunan menuju komplek perumahan. Sebelum ini, aku pernah selepas lautan, ombaknya menyapa pantai-pantai, menjadikannya keceriaan bagi pengunjung setianya. Sebelum ini, aku pernah jadi sinar malam disebelah bulan yang kau lihat diam-diam kemudian menciptakan senyum simpul menyenangkan. Sebelum ini, aku pernah jadi rintik hujan yang hadirnya kau tunggu kemudian. Sebelum ini, aku pernah jadi pelangi di bibir tubuhmu.

Ngomong-ngomong

Sebelum dingin menarik aku ke tempat paling dasar. Sebelum bulir keringat menggerogoti ku setelah tidur seharian. Sebelum kayu-kayu bakar terkumpul dan membakar diri mereka sendiri.

Sebelum
Sebelumnya
Tak ada yang kemana-mana
Aku masih sebelum ini
Tak ada yang kemana-mana, aku masih sebelum ini

Aku hanya butuh istirahat panjang sampai sebelum ini kembali menggelinjang. 

; dan

Canda Tawa di Ruang Terbuka








Tak perlu menghabiskan banyak uang untuk berbahagia, jika kamu bisa merayakan apa pun dengan hati ceria. Siapa yang mampu menghalangi kita untuk bahagia? Kita lah pemilik kebahagiaan itu, pemilik diri kita sendiri.

Sayangnya, kita pun pemelik kesedihan, yang seringnya datang tanpa diundang. Tetapi siapa lah mereka! Bukan kamu! Bukan penghalang harapan di hari-hari depan.

Tak usah malu menunjukkan emosi yang ada di dalam dirimu. Mereka yang tidak pandai mendengarkan, mungkin adalah sekumpulan daging yang depresi dengan diri mereka sendiri.


Tak ada yang hilang dari dirimu, apabila memutuskan untuk sebentar bersedih dan lebih banyak berbahagia atau sebaliknya. Kamu tak akan kehilangan siapa. Kamu bisa berbincang dengan benda mati sekalipun. Kamu penguasa dirimu. Kamu hanya harus lekas menggerakkan langkah. 



Salah satu fav ku di Pustakalana Booksclub, Kak Ozu. Perjuangan studi kakak satu ini sungguh, sangat menginspirasi. 



; dan 

Tempat yang Terlupakan




Benarkah selalu ada yang istimewa di angka pertama? Seperti, mengunjungi satu tempat untuk pertama kali, makan makanan yang belum pernah dicoba sebelumnya, berada di fase kehidupan tertentu, dan semua hal yang dirasa baru kita rasakan untuk pertama kali. 

Atau jangan-jangan kita belum pernah menikmati apa itu pengalaman pertama. Melewatinnya begitu saja karena abai dengan hal yang dirasa atau kita anggap biasa. Sampai satu hari di pertengahan bulan Mei, aku memutuskan rutin mengabadikan momen 'pertama'. Ups, kebanyakan sih makanan (emang dasarnya doyan makan). 

Lumpia Nyonya Liem 

Lokmie depan Masjid Istiqomah 

Pantai Gesing, Gunung Kidul Jogja


Kereta antar kota (Cimekar - Bandung) 

Vietnamese Rice Paper Rolls pertama yang dibuat sendiri 


Tempat makan padang di Bandung yang gak akan pernah lagi aku kunjungi



        Cimori Semarang


Wonjo Korean Restaurant di Bandung 


Good Karma di Yogyakarta

Jangan berharap gambar yang terambil sebagus hasil fotografer, ya. Momen di atas cenderung apa adanya tapi menangkap momen pertama kali itu bisa dibilang sedikit mudah jika disandingkan untuk mengingat rasanya.

Ya, rasa.

Butuh untuk kembali melihat bagaimana semua momen terbentuk di dalam tubuh kita sehingga bisa menghasilkan rasa. Seringkali rasa tidak mampu lagi dicerna oleh ingatan itu sendiri, lepas karena ingatan yang menua atau memang memilih untuk dilepaskan.

Butuh contoh?

** Makan mie kocok di pinggir jalan untuk pertama kali. Ok, kamera siap dan foto dengan beragam posisi sudah ada di galeri. Lalu kalian pulang ke rumah, setelahnya? Melanjutkan aktivitas berikutnya?

Jika diminta mendeskripsikan, masih ingat gak bagaimana rasa mie kocok itu? Bagaimana rasanya makan di pinggir jalan untuk pertama kali? 

Mungkin akan ada yang mendeskripsikan rasanya terlalu asin, tempatnya kurang bersih, sampah ada dimana-mana, pedagangnya ramah, dan harga gak sesuai dengan rasanya. Akan ada juga yang bisa mendeskripsikan lebih dari itu atau sebaliknya sama sekali malas memberi penjelasan atau tiga bulan setelahnya lupa bagaimana pengalaman itu terjadi. **

Nyatanya momen-momen di atas gak lantas membuat rasa itu bisa diingat semudah ketika mengambil gambar. Betapa aku sebagai pribadi sangat lemah menangkap dan mengingat sebuah rasa untuk pertama kali. Namun dari keputusan mengabadikan momen ini pun membuka mataku bahwa gak semua momen bisa dan atau harus ditangkap oleh kamera. Sehingga diantara kita ada yang lebih memilih mengabadikannya dalam tulisan, gambar, dan hal unik lainnya. Dan aku masih tetap percaya, bahwa selama proses itu pula akan tetap banyak hal yang tidak bisa diungkapkan.

Semua hal setara berharga, jadi sayang sekali jika sebuah rasa tidak mampu kita ingat lagi 'kan? Pun benar adanya, tak ada yang tak suka dinilai berharga termasuk 'hal pertama'. Eh, lucunya kita (aku lebih seringnya) malah sering abai dan menganggapnya biasa saja. Biasanya nih, sampai pengalaman pertama itu menghilang atau gak bisa lagi kita temukan. Baru deh, sadar.

Untuk itu, keputusan mengabadikan momen ini terasa luar biasa! Aku hanya berharap agar tidak mudah lupa pada momen yang sengaja aku buat, kepada waktu yang orang kasih, kepada kebaikan dan keburukan. Hmm .. jadi gak sabar nih, menikmati pengalaman-pengalaman pertama apa lagi yang akan menjemputku di depan sana. 

: dan  

Dimana Kita Bermain Hari Ini?





Sejenak saja. Aku ingin pergi dari pengapnya rumah. Jarang sekali Ayah dan Ibu mengajakku bertemu sinar matahari, apalagi berinteraksi ke tempat-tempat baru. Hanya mimpi. Ramadan kali ini, tanteku dengan baik hati mengajak aku pergi bermain di salah satu pusat perbelanjaan. Sesampainya di mall, aku dibuat bingung. Mengapa gedung sebesar itu hanya memiliki tempat bermain super kecil?

Meski begitu, senang sekali rasanya bisa bermain mandi bola bersama adik dan teman asing lainnya. Aku jadi tak perlu membuat kegaduhan di rumah supaya bisa bebas. Jika bosan, aku akan bermain pasir tepat disebelah area mandi bola atau menyusun kapal dan pistol dari balok lego. Kerap kali beberapa teman asing tetiba menghancurkan kapal yang sudah susah payah kubuat. Aku gak paham maksud dari merusak itu merupakan bentuk dari sarkas, sirik, mencari perhatian, dan kamu bisa menamakannya sendiri. Pastinya sih membuat hati ini jengkel. Aku pun hanya menggeleng kepala ketika teman asing kerap mengambil balok-balok dari wilayahku. Padahal ia bisa ambil sendiri di kotak balok susun yang sudah tersedia tepat di samping kami. 




Sialnya, adik manisku juga mengalami kejadian pahit ketika ia lebih dulu mengambil kemudi mobil mainan. Seorang teman asing merebutnya dengan cara sedikit kasar. Mendorong adikku yang memiliki tubuh lebih kecil darinya tanpa bertanya. 

Terlepas dari semua pengalaman kurang menyenangkan, aku masih dalam keadaan senang hati. Jadi seperti ini ya tempat bermain kami, aku dan mereka dibesarkan di latar keluarga berbeda-beda, dididik dengan cara yang tak mungkin sama, tak mungkin bisa berharap semua akan bersikap sesuai keinginan. Seharusnya lebih baik dan banyak aku maklumi atau memilih untuk kuteriaki?



Gatal rasanya untuk tidak memikirkan soal jika tumbuh dewasa nanti, dimana tempat bermain bagi aku? Adakah tempat bermain mandi bola bagi orang dewasa? Jika memang ada, akankah aku malu untuk mengunjungi atau bebas bermain menjadi diriku sendiri? Menjadi dewasa sepertinya banyak hal yang perlu dipertimbangkan, ya. Berbeda dengan aku, kini. Menikmati tempat bermain yang lahir dari tubuh orang dewasa dengan tak menanggalkan atribut anak-anak dalam tubuh mereka. Kalian luar biasa! Terima kasih, masih peduli kepadaku dan teman-teman asing (kacau) ku. 

; dan

Ada di Matahari




Sinar mata mereka berbicara ketika kami bawakan dua kardus buku, berisikan beragam jenis bacaan yang akan menemani waktu santai atau pada dasarnya mereka gemar melahap setiap lembar.

Lalu

lalu

Apakah mereka jarang mendapatkan buku bacaan? 


Adik-adik sedang mensortir buku bacaan yang mereka terima, 11 Mei 2017.

Kapan terakhir kali kamu membaca buku? Kemarin? Tahun Lalu?
Apakah kamu tipe yang haus membeli buku bacaan namun pada akhirnya banyak sekali buku yang belum sempat kamu baca?

Saya sempat malu pada diri sendiri melihat reaksi gembira anak - anak ketika mendapat buku bacaan. Sementara, ada beberapa buku yang sampai detik ini belum selesai saya baca. Mudah sekali ya mengabaikan suatu hal yang telah saya dapatkan sementara banyak orang di luar sana susah mendapatkannya.

Hari ini adalah pertemuan ketiga kami dengan anak panti asuhan kuncup harapan. Akhirnya, perbincangan Ricko, Gita, dan saya tidak berakhir pada wacana semata. Beruntungnya kami, banyak sekali tangan-tangan yang ikut terlibat dalam aksi kecil ini. Awalnya kami tidak ingin melabeli diri dengan sebuah nama tapi setelah diskusi alot di satu tempat makan, tercetuslah nama 'matahari'. 

Bahagia itu menular.



Dari sekian banyak hal di dunia ini; Kenapa matahari?
Nama tersebut muncul spontanitas, saya kurang ingat jelas filosofi dibalik pemilihan 'matahari. Namun jika boleh menaruh harap, semoga kita bisa membawa energi positif kepada anak - anak panti. Energi ini semoga jadi titik balik mereka untuk tidak mengesampingkan apa pun cita - cita yang ingin mereka kejar. 

Bakti sosial merupakan langkah pertama perkenalan kepada adik-adik di panti asuhan. Tidak ada ikatan di sini, kami pun tak menjanjikan selang berapa waktu untuk memberi edukasi. Kami belajar berkomitmen pada apa yang kami mulai.

Singkatnya, matahari memiliki harapan agar adik-adik dapat mengenal lebih soal pekerjaan yang mungkin masih terdengar asing buat mereka. Sehingga kegiatan kami ketika datang ke panti ialah berbagi dan memberi sedikit pelatihan dasar tentang bidang yang kami geluti. Sempat juga terpikir, apa kami telat memperkenalkan mereka soal ragam bidang pekerjaan? Sebagai informasi tambahan, kebanyakan adik panti itu sudah SMP, SMA, dan satu anak SD. Di sini lho, tugas besar kami mengemas suatu hal yang tidak mereka kenal menjadi mudah dimengerti. 

Jadi, apa kamu berminat untuk berkontribusi? 

Apa pun bisa kamu beri di sini, lho. Tentu saja yang berkaitan dengan kepentingan anak panti, ya. Tenaga? pengetahuan? pakaian? uang? buku? Semua diterima dengan tangan terbuka!

Calon ibu, nih. 

Saya ingin perkenalkan siapa saja yang sudah menjadi bagian matahari; Ricko, Gita, Teh Ti, Setyo, May, Jo, Ice, dan semua yang ikut berkontribusi memberi bantuan. Kalian luar biasa! Oia, kali ini terima kasih juga untuk Mizan atas buku-buku nya, saya yakin minat baca mereka akan ikut meningkat. Semoga bantuan kita kepada adik-adik ini akan menular, membekas di kehidupan mereka, dan bermanfaat.

; dan

Jalan-Jalan di Bibir Pantai



Aku tidak bisa berjanji untuk setia selalu duduk di bibir pantai. Iya, akan kudapati tubuhku basah akibat ombak yang kau bawa dari lautan. Kulitku melepuh terpanggang matahari siang. Tidak 'kah kau kasian? Jangan! Kasian dan sayang itu berseberangan.

Kau seret ikan-ikan mati akibat pasang surut dari dasar lautan. Tak satu pun membawa kenikmatan, namun bukan semata-mata aku ingin dirimu membawa pelbagai jenis ikan. Kuhadiahi kamu ketulusan, yang masih perlukah untuk dijelaskan?

Di tengah cuaca aku bisa saja pudar, berbalik, dan menghilang. Sebab aku tidak paham apa arti ombak yang kamu bawakan. Tetapi lihat, kita hanya berpura-pura tidak kehilangan apa pun. Kita menolak kenyataan bahwa kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Aku hanya harus kabur dari pantai ini. Tentu saja, sudah. Bagaimana bisa aku diam di bibir pantai yang mati. Meski begitu, jika besok tak ada yang mau mengujungi pantaimu lagi. Kamu tahu harus memberi sinyal seperti apa, 'kan? Tetapi aku tidak bisa berjanji menyambutmu seperti dulu lagi setelah menghargai adalah pekerjaan utamaku yang sejak awal tak juga kamu iyakan.


;dan