#danberpuisi

Showing posts with label #danberpuisi. Show all posts
Showing posts with label #danberpuisi. Show all posts

Melahirkan Aku


Aku dilahirkan di kota ini
Tanpa busana
Bebas gerik di setiap sisi
Hingga buah dadaku tumbuh sedikit dan tak seindah bukit

Ibu dan ayah menyekolahkanku tinggi
Melahirkan aku yang lugu setelah lulus dari perguruan tinggi

Untuk memahami
Cinta tidak pernah lahir di kota ini
Cinta hanya melahirkan aku sebagai anak semata wayangnya
Semenjak janji tak pernah tahu arah kembalinya. 

; dan

Bulir Sernak


Luka menganga di bangun tidurku
Ia senang berkeliaran dan belum berhasil kukendalikan

Aku jadi ingin mencuri masa depan
Seolah menjadikannya hak milik
Sehingga tak perlu tidur membawa surih

Ada bulir di keningku
Melahirkan anak-anak keringat di sebagian tubuhku

Kapan aku dapat jatah liburku?
Menyeka basah keringat saja aku dungu. 

; dan

Tiga Anak Puisi di Malam Hari


Jeng, Ah! 

Resah dan desah
Mengadu sudah
Beratap bulan basah
Ditemani kota yang pongah

Jeng ah

Sudah merasa bengah?
Tahu nona mati terperangah?

Jeng ah
Nona jangan lengah
Mengingat lekuk peluk yang bikin semringah.


Minggu Malam

Minggu malam sebelum jam bekerja
Ada aku yang menjabat tangan kerabat
Membawa luka dengan tergesa-gesa

Menyirami jarum jam dengan kata-kata
Mendapati dirinya angin di kutub utara

Minggu malam sebelum jam bekerja                                             
Ada kita yang tak tahu benar, hangat itu sejenis apa
Aku berkarat dan tiada
Selamat mencari dan kembali menemukannya.


Salah Sangka

Lebih kurang
Jatuh cinta

Lebih jatuh
Lebih cinta

Kurang cinta
Kurang jatuh

Cinta jatuh

Kurang lebih? 

; dan 

DewaSah?




Di benak lelaki dan wanita yang mengaku dewasa
Tak ada waktu untuk menjadi anak kecil

Sebab kita memelihara banyak kata di kepala
Selalu ada yang abai dari panca indera
Terbelenggu repitisi semata
Jika waktunya sudah tiba, kita jadi terburu-buru  
Menggerutu setelahnya
Berharap akan baik-baik saja

Di benak lelaki dan wanita yang mengaku dewasa
Kenaifan beranak pinak 
Janji yang terlanjur terucap, tak dipahami betul artinya

Di benak lelaki dan wanita yang mengaku dewasa
Akan selalu berkeliaran anak kecil di tubuh mereka
Hanya malu untuk mengakuinya
Dengan alasan lelaki dan wanita dewasa

; dan

Pembicaraan di Beranda



Katamu
Aku ini lautan
Arus di pinggiran pantai 
Bah tsunami yang menyisakan mayat di pinggiran jalan

Terkadang, katamu
Aku bagai air kotor yang ada di bantaran sungai
Menjijikan dan menyedihkan

Aku, lanjutmu 
Asupan air bersih di perkotaan
Sangat kamu perlukan

Begitulah katamu
Tak mungkin aku lupakan luapan semalam
Hal membahagiakan yang pernah aku dengar dari seseorang.

; dan