Melahirkan Aku


Aku dilahirkan di kota ini
Tanpa busana
Bebas gerik di setiap sisi
Hingga buah dadaku tumbuh sedikit dan tak seindah bukit

Ibu dan ayah menyekolahkanku tinggi
Melahirkan aku yang lugu setelah lulus dari perguruan tinggi

Untuk memahami
Cinta tidak pernah lahir di kota ini
Cinta hanya melahirkan aku sebagai anak semata wayangnya
Semenjak janji tak pernah tahu arah kembalinya. 

; dan

Bulir Sernak


Luka menganga di bangun tidurku
Ia senang berkeliaran dan belum berhasil kukendalikan

Aku jadi ingin mencuri masa depan
Seolah menjadikannya hak milik
Sehingga tak perlu tidur membawa surih

Ada bulir di keningku
Melahirkan anak-anak keringat di sebagian tubuhku

Kapan aku dapat jatah liburku?
Menyeka basah keringat saja aku dungu. 

; dan

Awas! Tidak Semanis Gula



Sebelum ini, aku pernah sehangat napas, selepas sinar timbul di dedaunan menuju komplek perumahan. Sebelum ini, aku pernah selepas lautan, ombaknya menyapa pantai-pantai, menjadikannya keceriaan bagi pengunjung setianya. Sebelum ini, aku pernah jadi sinar malam disebelah bulan yang kau lihat diam-diam kemudian menciptakan senyum simpul menyenangkan. Sebelum ini, aku pernah jadi rintik hujan yang hadirnya kau tunggu kemudian. Sebelum ini, aku pernah jadi pelangi di bibir tubuhmu.

Ngomong-ngomong

Sebelum dingin menarik aku ke tempat paling dasar. Sebelum bulir keringat menggerogoti ku setelah tidur seharian. Sebelum kayu-kayu bakar terkumpul dan membakar diri mereka sendiri.

Sebelum
Sebelumnya
Tak ada yang kemana-mana
Aku masih sebelum ini
Tak ada yang kemana-mana, aku masih sebelum ini

Aku hanya butuh istirahat panjang sampai sebelum ini kembali menggelinjang. 

; dan

Tiga Anak Puisi di Malam Hari


Jeng, Ah! 

Resah dan desah
Mengadu sudah
Beratap bulan basah
Ditemani kota yang pongah

Jeng ah

Sudah merasa bengah?
Tahu nona mati terperangah?

Jeng ah
Nona jangan lengah
Mengingat lekuk peluk yang bikin semringah.


Minggu Malam

Minggu malam sebelum jam bekerja
Ada aku yang menjabat tangan kerabat
Membawa luka dengan tergesa-gesa

Menyirami jarum jam dengan kata-kata
Mendapati dirinya angin di kutub utara

Minggu malam sebelum jam bekerja                                             
Ada kita yang tak tahu benar, hangat itu sejenis apa
Aku berkarat dan tiada
Selamat mencari dan kembali menemukannya.


Salah Sangka

Lebih kurang
Jatuh cinta

Lebih jatuh
Lebih cinta

Kurang cinta
Kurang jatuh

Cinta jatuh

Kurang lebih? 

; dan 

Canda Tawa di Ruang Terbuka








Tak perlu menghabiskan banyak uang untuk berbahagia, jika kamu bisa merayakan apa pun dengan hati ceria. Siapa yang mampu menghalangi kita untuk bahagia? Kita lah pemilik kebahagiaan itu, pemilik diri kita sendiri.

Sayangnya, kita pun pemelik kesedihan, yang seringnya datang tanpa diundang. Tetapi siapa lah mereka! Bukan kamu! Bukan penghalang harapan di hari-hari depan.

Tak usah malu menunjukkan emosi yang ada di dalam dirimu. Mereka yang tidak pandai mendengarkan, mungkin adalah sekumpulan daging yang depresi dengan diri mereka sendiri.


Tak ada yang hilang dari dirimu, apabila memutuskan untuk sebentar bersedih dan lebih banyak berbahagia atau sebaliknya. Kamu tak akan kehilangan siapa. Kamu bisa berbincang dengan benda mati sekalipun. Kamu penguasa dirimu. Kamu hanya harus lekas menggerakkan langkah. 



Salah satu fav ku di Pustakalana Booksclub, Kak Ozu. Perjuangan studi kakak satu ini sungguh, sangat menginspirasi. 



; dan